Gebrakan Kemandirian di Abad Kedua: PCNU Sragen Wujudkan Sragen Mart Berbasis Saham Jamaah
SRAGEN, NU Sukodono Online – Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Sukowati menjadi momentum bersejarah yang melampaui sekadar seremoni. Dalam resepsi puncak yang digelar di GOR Diponegoro Sragen, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen secara resmi mencanangkan "Kebangkitan Kedua" dengan meluncurkan program ekonomi konkret, Sragen Mart.
Langkah ini menandai pergeseran fokus organisasi, dari sekadar konsolidasi massa menuju penguatan ideologi kader dan kemandirian ekonomi riil yang berbasis kerakyatan.
Ketua Tanfidziyah PCNU Sragen, Sriyanto, dalam keterangannya menegaskan bahwa soliditas organisasi yang telah terbangun hingga tingkat ranting harus dikonversi menjadi kekuatan ekonomi.
"Ini adalah momentum kebangkitan. Fokus kami kini bergeser pada penguatan ideologi melalui kaderisasi berjenjang dan langkah nyata di sektor ekonomi melalui Sragen Mart," ujar Sriyanto dengan optimis di sela-sela acara.
Kemandirian Berbasis Gotong Royong
Sragen Mart hadir sebagai embrio kemandirian finansial organisasi yang unik. Tidak bergantung pada pemodal besar atau investor tunggal, ritel modern ini dibangun sepenuhnya dari kekuatan kolektif warga Nahdliyin.
Sistem permodalan menggunakan skema saham dengan nilai terjangkau, yakni Rp 250.000 per lembar, yang diserap langsung oleh warga dari tingkat desa dan ranting. Antusiasme warga Nahdliyin terbukti luar biasa; dari total kebutuhan modal sebesar Rp 3 miliar, saat ini telah terkumpul dana sebesar Rp 2,83 miliar.
Lebih dari sekadar pusat perbelanjaan, Sragen Mart dirancang untuk berpihak pada ekonomi lokal. Manajemen mengalokasikan 30 persen ruang etalase (rak) khusus untuk produk UMKM milik warga Nahdliyin, dengan pendampingan langsung dari Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU). Hal ini diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas bagi potensi ekonomi di akar rumput.
Soliditas Jamaah dan Tantangan Global
Semangat gotong royong warga NU Sragen juga tercermin dalam tradisi tumpengan harlah. Panitia mencatat penerimaan sebanyak 1.134 tumpeng dari berbagai pengurus ranting, melampaui target awal yang dipatok sebanyak 1.000 tumpeng.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DPP PKB sekaligus tokoh perempuan NU, Luluk Nur Hamidah. Ia mengingatkan bahwa di usia yang ke-100 tahun, NU dihadapkan pada tantangan disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat.
"Komitmen NU terhadap NKRI dan Pancasila sudah selesai, sudah harga mati. Sekarang, tantangannya adalah bagaimana mengorganisir basis massa yang besar ini agar kontribusinya nyata di sektor riil dan meja diplomasi," tegas Luluk.
Ia menekankan tiga sektor krusial yang harus digarap serius:
Kemandirian Ekonomi: Membangun kekuatan finansial agar organisasi berdikari.
Akselerasi Pendidikan: Transformasi pesantren menjadi pusat pemberdayaan modern.
Keunggulan SDM: Menciptakan kader kompetitif di kancah geopolitik internasional.
Menutup rangkaian perayaan ini, PCNU Sragen berharap sinergi dengan pemerintah daerah dapat terus diperkuat, terutama dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Tim Liputan: Divisi Media MWC NU Sukodono Editor: Sekretariat MWC NU Sukodono